News Update :

DUGAAN KORUPSI MEGA PROYEK HAMBALANG

Proyek Hambalang senilai 1,5 trilliun rupiah sarat akan kontroversi dan kejanggalan-kejanggalan yang menjurus ke arah terjadinya 'korupsi berjamaah'.

Pasifisme, perlawanan terhadap kekerasan

Pasifisme adalah perlawanan terhadap perang atau kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan pertikaian. Pasifisme mencakup pandangan yang berspektrum luas ..........

Indahnya Kebersamaan

Mungkin dua kata itu kuanggap paling tepat untuk mengungkapkan arti pentingnya kebersamaan ........

Bersatu dalam perbedaan

Perbedaan boleh jadi sudah mengakar di bangsa ini. Mungkin karena warna benderanya sendiri .............

Sabar dalam Kebhinekaan

Beragama Islam secara utuh (kafah) itu butuh kesabaran (QS 103: 3). Termasuk sabar dalam menyikapi keberadaan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Tampilkan postingan dengan label misi utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misi utama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2012

SABAR DALAM KEBHINEKAAN

Beragama Islam secara utuh (kafah) itu butuh kesabaran (QS 103: 3). Termasuk sabar dalam menyikapi keberadaan orang-orang yang tidak beragama Islam. Untuk memelihara salah satu misi ajaran Islam tentang perdamaian, diperlukan kesabaran dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan harus dihormati, terutama untuk menghindari munculnya beragam bentuk ketegangan sosial yang kerap amat memprihatinkan.

Bukankah perbedaan itu merupakan wujud kebinekaan yang sejak awal merupakan keniscayaan yang diakui Alquran, khususnya bagi bangsa Indonesia? Lalu, mengapa fakta kebinekaan masyarakat kita ini masih saja muncul dalam nuansa yang tidak bersahabat? Tidak jarang fenomena itu hadir dalam wujud kekerasan yang amat merugikan. Kebinekaan dalam berkeyakinan kerap berubah menjadi konflik yang sangat memprihatinkan. Watak ramah masyarakat pun tidak lagi menjadi pemandangan persahabatan yang menyejukkan.

Sistem nilai yang terbuat dalam kebinekaan adalah aturan Tuhan (sunatullah) yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan, dan diingkari. Barang siapa yang mencoba mengingkari hukum kemajemukan budaya maka akan menimbulkan fenomena pergolakan yang tiada berkesudahan. Bahkan, Alquran mengakui keberadaan agama lain yang memiliki kitab suci, kecuali agama yang berdasarkan paganisme dan syirik, dan menyerukan umat Islam untuk hidup berdampingan dengan mereka.

Sejarah kejayaan Islam yang berlangsung dalam harmoni kebinekaan memang telah berlalu, namun spirit keragaman seperti tertuang dalam Alquran tetap menyala hingga kini. Sehingga, perlu direalisasikan dalam kehidupan nyata. Ini bukan merupakan kemustahilan karena ada kesejajaran antara kebinekaan Islam dan kemajemukan modernisme. Akan tetapi, kebinekaan atau yang kini sering muncul dalam terminologi pluralitas kadang-kadang masih ditandai berbagai penyimpangan dalam praktik politiknya.

Hal ini merupakan bentuk kegagalan dakwah karena berbagai interest politik yang picik masih belum mampu diredusir, baik oleh sebagian umat Islam secara khusus maupun umat manusia pada umumnya.

Langkah bijaksana bagi setiap umat adalah bersabar dan sanggup mengendalikan diri untuk tetap menghormati perbedaan. Selain itu, diperlukan pula kesabaran dalam mewujudkan suasana sosial yang kondusif untuk menciptakan toleransi. Sebab, dalam batas-batas sosiologis, toleransi tidak bisa terwujud dengan sendirinya, tapi membutuhkan proses rekayasa kultural sehingga masyarakat dapat terkondisikan secara produktif. Toleransi bukan saja menjadi ajaran yang hanya hadir dalam wacana, tapi sejatinya menjadi perilaku yang membudaya dalam kehidupan secara lebih terbuka.

Lihatlah pemandangan sosial masyarakat yang dibangun Nabi dengan para sahabatnya. Jika dalam terminologi ajaran Islam dikenal istilah harbi dan dzimni untuk menunjuk masyarakat yang berbeda agama, hal itu menggambarkan adanya pemberian tempat khusus secara damai bagi mereka yang berbeda agama selama tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat melanggar kerukunan. (IRIB Indonesia/Republika)

Oleh: Prof Dr Asep S Muhtadi

Sumber : http://indonesian.irib.ir/cakrawala-indonesia/-/asset_publisher/eKa6/content/id/5009971

PASIFISME, PERLAWANAN TERHADAP KEKERASAN

Pasifisme adalah perlawanan terhadap perang atau kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan pertikaian. Pasifisme mencakup pandangan yang berspektrum luas yang merentang dari keyakinan bahwa pertikaian internasional dapat dan harus diselesaikan secara damai, hingga perlawanan mutlak terhadap penggunaan kekerasan, atau bahkan paksaan, dalam keadaan apapun.

Pasifisme dapat didasarkan pada prinsip atau pragmatisme. Pasifisme berprinsip (atau Deontologis) didasarkan pada keyakinan bahwa baik perang, penggunaan senjata maut, kekerasan atau kekuatan atau paksaan secara moral adalah salah. Pasifisme pragmatis (atau Konsekuensial) tidak memegang prinsip mutlak demikian melainkan menganggap ada cara-cara yang lebih baik untuk memecahkan suatu pertikaian daripada perang atau menganggap manfaat-manfaat perang tidak sebanding dengan ongkosnya.

Merpati atau kelompok garis lunak adalah istilah yang digunakan secara informal, biasanya dalam politik, untuk orang-orang yang lebih suka menghindari perang atau memilih perang sebagai jalan terakhir. Sebagian orang yang disebut merpati tidak menganggap posisi mereka sebagai pasifis karena mereka berpandangan bahwa perang dapat dibenarkan dalam keadaan-keadaan tertentu (lihat Doktrin tentang Perang yang Sah). Deskripsi ini merujuk kepada kisah tentang Bahtera Nuh yang melukiskan burung merpati sebagai lambang pengharapan akan keselamatan dan perdamaian. Lawan dari merpati adalah rajawali atau kelompok garis keras.

Sebagian orang, yang menganggap dirinya pasifis, kadang-kadang meskipun menentang perang, kenyataannya tidak menentang semua penggunaan kekerasan, kekuatan fisik terhadap orang lain atau perusakan terhadap harta milik. Kaum anti-militer, misalnya, secara spesifik menenang lembaga-lembaga militer negara kebangsaan modern ketimbang mendukung "kekerasan" pada umumnya. Kaum pasifis lainnya mengikuti prinsip-prinsip anti-kekerasan, karena yakin bahwa hanya tindakan anti kekerasanlah yang dapat dibenarkan.

Anjuran pasifisme dapat ditemukan jauh di dalam sejarah dan literatur. Misalnya kecintaan akan seluruh kehidupan, manusia maupun bukan manusia, adalah ajaran sentral dalam Jainisme yang didirikan oleh Mahavira 599-527 SM. Nyawa manusia dihargai sebagai suatu kesempatan yang unik dan jarang untuk mencapai pencerahan, dan membunuh seseorang - siapapun juga - apapun juga kejahatan yang mungkin telah dilakukannya, adalah suatu tindakan memuakkan dan tidak dapat dibayangkan. Di Yunani kuno, dua contoh dari Perang Peloponesos 431–404 SM adalah protes anti kekerasan dari Hegetorides yang berasal dari Thasos, dan mogok seks kaum perempuan Athena dalam komedi Aristophanes Lysistrata.

Banyak orang yang menganggap Yesus sebagai seorang pasifis, berdasarkan Khotbah di Bukitnya. Di sini, Yesus mengajarkan "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu," dan sebaliknya "siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu."

Gereja-gereja damai, Religious Society of Friends (Quakers), Amish, Menonit dan Gereja Brethren, telah berabad-abad menjadi gereja-gereja pasifis. Koloni Pennsylvania yang dikuasai kaum Quaker menerapkan kebijakan publik yang pasifis dan anti-militersitik. Provinsi koloni ini selama 75 tahun, dari 1681 hingga 1756, pada dasarnya tidak bersenjata dan sedikit saja terlibat atau bahkan sama sekali tidak dalam peperangan selama periode itu. Pada abad ke-19 sentimen anti perang berkembang. Banyak kelompok dan gerakan Many sosialis pada abad itu yang anti militer, dengan alasan bahwa perang pada hakikatnya adalah sebuah bentuk paksaan pemerintah atas kelas pekerja, yang dipaksa untuk berperang dan mati dalam perang yang tidak memberikan keuntungan apapun kepada mereka atas perintah dari tuan-tuan politik dan ekonomi mereka yang tidak pernah menderita di garis depan peperangan. Pembunuhan atas pemimpin sosialis Perancis Jean Jaurès pada 31 Juli 1914 dan keputusan Internasional Kedua untuk kemudian meninggalkan chauvinisme dan militerisme serta kegagalan untuk berhasil menentang Perang Dunia I dianggap sebagai salah satu kegagalan terbesar gerakan sosialis.

Tolstoy adalah penganjur pasifisme yang gigih lainnya. Dalam salah satu karyanya yang belakangan, Kerajaan Allah ada di antara kamu, Tolstoy memberikan sejarah, uraian, dan pembelaan terhadap pasifisme.
Di Aotearoa/Selandia Baru pada paruhan kedua dari abad ke-19, Britania dan para pemukim kolonial, menggunakan banyak taktik untuk mendapatkan tandah dari orang-orang Māori, termasuk peperangan. Dalam salah satu kasus, seorang pemimpin Māori begitu meyakinkan sehingga ia mampu menganjurkan para pejuangnya untuk mempertahankan hak-hak mereka tanpa menggunakan senjata, dalam suasana di mana para pejuang yang sama telah mengalahkan lawan-lawan mereka pada tahun-tahun sebelumnya,Te Whiti-o-Rongomai meyakinkan 2000 orang untuk menyambut para pasukan yang bertekad untuk perang ke desa mereka dan bahkan menaawrkan makanan dan minuman. Pemimpin yang penuh damai ini pula membiarkan dirinya dan rakyatnya ditahan tanpa perlawanan.

Sumber : Wikipedia
Ditulis ulang oleh : JB. Tjondro Purnomo, SH
  

Rabu, 22 Februari 2012

BERSATU DALAM PERBEDAAN

Perbedaan boleh jadi sudah mengakar di bangsa ini. Mungkin karena warna benderanya sendiri sudah melambangkan perbedaan, merah dan putih. Warna yang kontras dan saling memisahkan. Sehingga kita jadi berbeda. Namun lebih dari itu, perbedaan adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Meskipun tidak berarti semuanya harus beda.
***
 
Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan bersama-sama, bagaimana rakyat Indonesia kembali bersatu. Kita bersatu dalam satu usaha, yaitu mendukung KOMODO menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Tepatnya NewSevenWonders. Setiap pihak tampak saling bekerja sama dalam satu suara. Meneriakkan : dukung komodo! Dukung KOMODO!! Tak ada pro dan kontra, dukung, hanya itu kata yang terdengar. Jusuf Kalla terus bersuara, masyarakat, televisi, iklan dari salah satu produk, bahkan dari 4 operator besar di Indonesia pun memberikan kemudahan dengan cara mematok biaya 1 rupiah saja. Ya, satu rupiah saja…
Tentunya, kita cukup terharu dengan fenomena ini. Sekian lama terpecah belah, kini rakyat Indonesia kembali bersatu dalam satu suara. Tidak ada pandangan plitik, agama, ras, dan suku, yang ada hanya satu : Indonesia. Uhh, benar-benar indah.
 
Namun, dalam beberapa waktu, munculah seorang pakar Komodo yang membuat sebuah pengkauan mencengangkan. “Semakin banyak Komodo berinteraksi dengan manusia, maka akan ada perubahan dengan cara hidupnya.” Menurutnya, jika Komodo menjadi 7 keajaiban dunia, maka akan membahayakan bagi populasi Komodo itu sendiri. Benar atau tidak? Entahlah. Dia yang lebih ahli.
Seketika, bermunculan pula isu-isu tak sedap terkait lomba ini. Ternyata, panitia yang mengadakan acara newsevenwonder ini tidak terafiliasi dengan UNESCO, sebagai badan resmi PBB yang diakui dunia. Bahkan, Unesco sudah terang-terangan mengumumkan tidak adanya hubungan mereka dengan kontes ini. Nah lho? Apalagi, kita juga dihadapkan dengan satu kenyataan aneh lainnya. Bahwa jika seandainya kita menang dan termasuk dalam newsevenwonders, kita justru harus membayar cukup mahal untuk berbagai macam sponsor dan lainnya. Pemenang justru mengeluarkan lebih banyak uang?? Lalu untuk apa kita berusaha menang? Hanya supaya diakui dunia? Unesco sudah mengakui kita sejak belasan tahun yang lalu! Sebagai informasi tambahan, Maladewa / Maldives sudah keluar dari kontes ini karena keberatan.
Tentunya, saya tidak bermaksud untuk mempengaruhi kawan semua. Apakah masih tetap mendukung Komodo, atau hentikan sejenak. Saya tidak ingin menjadi seorang pengambil keputusan di sini Andalah sang pengambil keputusan… :)
***
 
Baru-baru ini, dunia dihebohkan oleh lahirnya bayi yang menjadi manusia ke 7 milyar di bumi ini. Sekjen PBB mengatakan, bahwa jumlah 7 milyar yang ada ini bisa menjadi tantangan, sekaligus peluang. Memang , jumlah 7 milyar yang ada di dunia ini sangatlah banyak.
Kita boleh saja merasa ketakutan akan kehabisan sumber daya karena saking banyaknya manusia di bumi ini. Tidak hanya itu, limbah yang dihasilkan oleh manusia pun akan semakin banyak dan menjijikkan. Belum lagi semakin tergencetnya makhluk-makhluk lain, seperti hewan dan tumbuhan. Benar-benar mengerikan.
Dan hebatnya, kemarin malam tiba-tiba saja saya meliha sebuah acara yang sangat tendensius. O*J, yang membuat cerita yang penuh dengan propaganda KB dan larangan nikah muda. Saya tidak tahu apa maksudnya, tapi yang jelas, kita sangat dilarang untuk nikah muda dalam acara itu.
Menikah muda, secara general diartikan belum mapan, dan langsung punya anak. Kemudian secara semena-mena disambungkan dengan memiliki banyak anak.
Satu yang saya ingat di sini adalah, bahwa jodoh, lahir, dan mati adalah misteri Tuhan. Lebih pilih mana, menikah muda atau tinggal serumah, punya anak, dan tidak menikah? Lebih pilih mana, punya banyak anak dari hubungan yang sah, atau punya banyak catatan pengguguran? Punya anak harus direncanakan itu pasti, tapi tidak berarti harus dibatasi. Setiap orang punya hak untuk lahir…
Dan sekali lagi, masyarakat Indonesia terpecah di sini. Ada yang setuju dengan KB, dan ada yang tidak. Yang mana yang benar? Wallahu ‘Alam.
***
 
Yah, pertentangan dan ketidaksetujuan adalah hal wajar. Jangankan satu negara, satu rumah saja sering ribut. Suami Istri saja sering tidak sepaham. Tak ada yang perlu ditakutkan dari hal itu. Yang perlu kita takutkan adalah jika ada sebuah kesepahaman karena takut dengan penguasa. Sebut saja zaman orde baru. Di mana Indonesia selalu satu suara –mendukung pemerintah- karena takut. Justru dengan adanya perbedaan kita akan lebih kaya. Hanya saja, kita harus mengingat, perbedaan bukanlah alasan bagi kita untuk saling membenci dan saling memusuhi. Nikmati indahnya perbedaan, dan biarkan perbedaan itu membimbing kita menuju tingkatan yang lebih baik lagi.
Jadi ingat kata Gusdur, “Jangan menyama-nyamakan yang beda, dan jangan membeda-bedakan yang sama.” Kata-kata yang simpel, namun penuh makna, apalagi kata-kata itu keluar dari seorang pejuang plularisme sejati seperti beliau.
 
BHINNEKA TUNGGAL IKA…

Sumber : http://agfian.wordpress.com/2011/11/01/bersatu-dalam-perbedaan/
 

INDAHNYA KEBERSAMAAN

Indahnya kebersamaan.

Mungkin dua kata itu kuanggap paling tepat untuk mengungkapkan arti pentingnya kebersamaan dalam sebuah keluarga. Entah itu antara suami istri, bapak Ibu, ortu dengan anak, kakak dan ade, bahkan kita dengan pembantu di rumah pun. Terkadang kita  “lupa” menyadari pada saat kita berdekatan dengan mereka, kita tidak memikirkan bahwa arti hadirnya mereka sangat penting. Tapi.. saat kita berada di tempat yang berbeda, jauh dari mereka dan lagi sendiri betapa kita akan merasakan kesepian, kangen dan membutuhkan mereka. Apalagi kalau kita lagi jatuh sakit, di perantauan lagi. Aduuuhhh… pasti kebayang deh bagaimana rasanya menderita hidup “sebatang kara”.

Ini aku rasakan tiga hari yang lalu tepatnya hari Minggu tanggal 25 januari”08 saat aku lagi tugas di Bali. Mungkin karena aktifitasku yang tinggi, padat schedule, kurang istirahat, udara Bali yang begitu terik di siang hari, aku harus mondar mandir dari satu tempat ke tempat lain, ditambah pola makanku yang kurang teratur karena telat makan dan minum membuat kesehatanku sedikit drop. Awalnya aku hanya merasa sedikit pening kepala, tapi karena pekerjaan banyak maka aku abaikan saja dan itu aku rasakan beberapa hari selama masih di Jakarta dan sebelum berangkat ke Bali. Makin dibiarkan ternyata selama aku di Bali keluhanku makin bertambah, yang awalnya cuma sakit kepala, bertambah sakit perut bagian ulu hati mual, akhirnya muntah-muntah,  badan meriang,  keluar keringat dingin terus,  jantung serasa berdebar kencang,  buang-buang air segala,  sampe badan terasa lemes. Di Bali sendiri lagi,  jatuh sakit,  tidak ada yang menemani,  tidak ada yang dimintain tolong untuk ambil ini atau itu,  alamaakk…lengkap sudah penderitaanku. Aku merasa jauh dengan keluargaku, suami, anak-anak, ade, bahkan pembantuku (ternyata peran pembantu begitu besar di mataku karena biasanya urusan dapur, cuci mencuci, siapin segala sesuatu keperluan kecil dalam rumah dikerjakan pembantuku). Aku menyadari betapa penting arti mereka bagiku. Meski terkadang hanya sekedar  minta tolong suami, atau anak atau pembantu hanya untuk mengambilkan makan atau minum atau yang laennya hal kecil sekalipun. Aku merasakan ternyata aku kesepian tanpa mereka. Aku jadi betul betul kangen berat dengan mereka. Kangen berada ditengah-tengah mereka. Kangen kebersamaan. Kangen kemesraan.

Saat itu aku berpikir bagaimana aku harus bisa survive sendirian,  sakit di perantauan tanpa mereka,  memikirkan kebutuhan sendiri,  melayani diri sendiri dan ingin segera menyelesaikan tugas di Bali supaya cepat pulang,  cepet kumpul keluarga,  berada di antara mereka,  bercanda canda dan hmmm…..minta tolong diambilkan ini atau itu ( he he he.. tetep…).

Aachhh….Indahnya kebersamaan…

Sumber : http://ennoadi.blogdetik.com/2009/01/27/indahnya-kebersamaan/

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More